Majelis Rasulullah

majelis
Majelis Rasûlullâh

Oleh Ustadz Novel Bin Muhammad Alaydrus
Pengasuh Majelis Ilmu Dan Dzikir AR-RAUDHAH, SOLO

Di dalam Masjid tampak orang-orang duduk melingkar dengan tenang dan rapi. Tiada sepatah kata ataupun gerakan yang mengusik keheningan masjid. Yang terdengar hanyalah suara merdu, lembut dan penuh cinta yang menuturkan untaian mutiara tiada tara. Suara yang dirindukan oleh setiap pecinta, suara kekasih Allâh Al-Musthafâ shallallâhu ‘alaihi wa sallam menyampaikan sabda-sabdanya. Mereka semua tenggelam dalam keheningan menyaksikan keindahan baginda Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Setiap orang ingin duduk di dekat beliau, menatap wajah beliau yang mulia. Kendati demikian, mereka tidak berdesak-desakan. Suatu hari, barisan depan majelis Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah dipenuhi oleh para sahabat. Beberapa sahabat yang pernah ikut perang Badar (ahli Badar) tidak mendapatkan tempat duduk. Mereka lantas berdiri di hadapan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menanti agar diberi tempat oleh sahabat yang lain. Akan tetapi, tidak ada seorangpun yang bergerak dari tempat duduknya. Menyaksikan hal ini, Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam segera memerintahkan beberapa sahabat yang tidak ikut perang Badar — yang saat itu berada di dekat beliau — untuk berdiri dan memberikan tempatnya kepada para sahabat ahli Badar. Kemudian turunlah wahyu Allâh yang berbunyi:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِمِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allâh akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allâh akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allâh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al-Mujâdilah, 58:11)

Demikianlah keadaan majelis Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Beliau menempatkan setiap orang sesuai dengan kedudukannya. Orang-orang yang memiliki kedudukan di sisi Allâh, berjasa bagi Islam dan muslimin, beliau tempatkan di depan. Begitu pula dengan orang-orang yang berilmu dan lebih tua. Setelah ayat di atas turun, maka para sahabat pun suka memberi tempat kepada sahabat yang lain, meneladani AlQur’an dan Sunah Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Dalam kesempatan lain, ketika Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam sedang duduk bersama para sahabatnya di sebuah rumah, tiba-tiba seorang sahabat bernama Jarîr bin ‘Abdullâh datang dan berdiri di pintu karena ruangan telah dipenuhi oleh para sahabat yang hadir lebih awal. Ketika melihat kedatangan Jarîr, Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam segera menengok ke kanan dan ke kiri, mencari tempat yang masih luang untuknya. Ternyata semua tempat telah dipadati oleh para sahabat. Melihat hal ini, Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam segera melipat selendang beliau, menyerahkannya (melemparkannya) kepada Jarîr dan berkata, “Duduklah di atas selendang itu, wahai Jarîr.” Jarîr pun menerima selendang itu, memeluknya dengan penuh cinta dan menciumnya dengan hangat. Ia tidak kuasa untuk duduk di atas selendang Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Jarîr lalu mengembalikan selendang itu kepada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Semoga Allâh memuliakanmu wahai Rasul, sebagaimana engkau memuliakanku.”

Melihat perlakuan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam kepada Jarîr tersebut para sahabat tercengang dan berkata :

“Duhai Rasûlullâh, hari ini kami melihat engkau memperlakukan Jarîr dengan suatu perlakuan yang sebelumnya tidak pernah engkau lakukan kepada seorangpun.”

“Benar, Jarîr ini adalah tokoh masyarakat,” jawab Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Setelah itu beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا أَتَاكُمْ كَرِيْمُ قَوْمٍ اكْرِمُوْهُ
“Jika datang kepada kalian seorang yang mulia dari suatu kaum (pemuka masyarakat ), maka muliakanlah dia.”

Duhai Rasul, betapa mulia akhlakmu, sungguh agung budi pekertimu. Selendang yang mulia, yang senantiasa melekat di tubuhmu, yang engkau gunakan ketika shalat, dalam perjalanan bahkan menemanimu dalam jihad, engkau serahkan kepada Jarîr untuk didudukinya?

Sungguh, ini merupakan sebuah penghormatan besar yang dilakukan oleh Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam rangka memuliakan setiap orang yang mulia. Rasulullah tidak kuasa membiarkannya duduk di belakang juga tanpa alas. Ya Allâh, limpahkanlah shalawat dan salam tanpa henti kepada kekasih kami, RasulMu tercinta, Al-Musthafa shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Betapa senang hati kita saat orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung kemudian melayani kita, bahkan memberikan sorbannya sebagai alas duduk kita. Begitulah akhlak Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Sudahkah kita meniru akhlak Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang mulia ini?

Dalam kisah di atas sangat banyak pelajaran yang dapat kita petik. Saat ini keberkahan majelis ilmu seringkali sirna karena tidak mencontoh dan meneladani tata cara majelis ilmu Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Agar majelis ilmu menjadi berkah dan bermanfaat, setiap orang hendaknya menjaga adab. Jika dia seorang yang berilmu, tokoh masyarakat, orang tua, maka hendaknya ia didudukkan di barisan depan. Sedangkan anak-anak dan kaum remaja, hendaknya menempati posisi yang lebih di belakang. Kemudian jika ada seseorang yang memiliki kedudukan, baik itu ulama ataupun yang lainnya, datang terlambat karena sebuah keperluan, bukan karena disengaja, maka hendaknya ia diberi tempat sesuai dengan kedudukannya. Selain itu yang tidak kalah penting dan sangat berpengaruh terhadap keberkahan majelis adalah ketenangan di dalam majelis dan tidak berdesak-desakan. Setiap orang hendaknya mencari posisi duduk yang nyaman, mengarahkan pandangan kepada pimpinan majelis, diam, tidak berbicara ataupun melakukan suatu kegiatan yang dapat menimbulkan suara yang dapat mengganggu ketenangan majelis.

📣 Telegram Channel :
http://bit.ly/majelisarraudhah

Jangan lupa share artikel di atas kepada semua umat Islam di manapun mereka berada….. 😊😊😊

Like :

Tinggalkan Komentar